BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Uraian Dinding Penahan Tanah
Dalam
pelaksanaan dinding penahan tanah, biasanya karena adanya perbedaan
elevasi maka tanah di belakang dinding diisi dengan tanah timbunan.
Timbunan ini dapat diisi dengan menggunakan tanah pasir atau tanah
lempung. Dinding penahan tanah adalah suatu bangunan yang dibangun untuk
mencegah material agar tidak longsor menurut kemiringan alamnya dimana
kestabilannya dipengaruhi oleh kondisi topografinya. Jika dilakukan
pekerjaan tanah seperti penanggulan atau pemotongan tanah, terutama bila
jalan dibangun berbatasan dengan sungai atau danau maka konstruksi
penahan itu dibangun untuk melindungi kemiringan tanah dan melengkapi
kemiringan dengan pondasi yang kokoh. Selain itu DPT juga digunakan
untuk menahan timbunan tanah serta tekanan-tekanan akibat beban-beban
lain seperti beban merata, beban garis, tekanan air dan beban gempa.
Bangunan dinding biasa digunakan untuk menopang tanah, batubara ,
timbunan bahan tambang dan air.
Dinding
penahan tanah sering kali digunakan hubungannya dengan jalan kereta
api, jalan raya, jembatan, kanal,dan banyak pekerjaan bangunan lainnya.
Kegunaan dari dinding penahan tanah dapat dilihat pada gambar 2.1 yaitu:
a. Digunakan pada daerah potongan (cut), daerah urugan (fill), maupun kombinasinya.
b. Digunakan
pada daerah yang perlu ditinggikan atau memerlukan elevasi yang lebih
tinggi untuk kepentingan pembuatan jalan, begitu pula bila memerlukan
daerah yang lebih rendah.
c. Memperluas dataran apabila tanahnya merupakan lereng (landscaping).
d. Sebagai dinding saluran (canals) dan pintu air (locks).
e. Untuk menahan erosi.
f. Untuk menahan air tampungan (flood walls).
g. Sebagai pangkalan jembatan (bridge abutment).

Gambar 2.1 Kegunaan dinding penahan tanah
2.1.1 Penggolongan Jenis-Jenis Dinding Penahan Tanah
Dinding penahan tanah dapat digolongkan menurut bahan-bahan yang dipakai untuk bentuk bangunannya.
1. Dinding Penahan dinding Batu Dan Balok
Dinding
penahan jenis ini digunakan untuk mencegah terjadinya keruntuhan tanah,
dan digunakan apabila tanah asli di belakang tembok itu cukup baik dan
tekanan tanah dianggap kecil. Hal ini termasuk
ke dalam kategori di mana kemiringannya lebih curam dari 1: 1 dan
dibedakan dari pemasangan batu dengan kemiringan muka yang lebih kecil.
2. Dinding Penahan Beton Tipe Gravitasi (Tipe Semigravitasi)
Bahan dari dinding ini dapat dibuat dari blok batuan, bata, atau beton polos (plain concrete). Stabilitas dinding ini tergantung beratnya dan tidak ada gaya tarik di setiap bagian dari dinding. Karena
bentuknya yang sederhana dan juga pelaksanaan yang mudah, jenis ini
sering digunakan apabila dibutuhkan konstruksi penahan yang tidak
terlalu tinggi atau bila tanah pondasinya baik. Dinding
ini kurang ekonomis apabila digunakan untuk dinding yang tinggi.
Dinding Semi Gravitasi adalah dinding yang sifatnya terletak antara
sifat dinding gravitasi sebenarnya dan dinding kantilever. Dimana pada
dinding ini terdapat perluasan kaki sehingga tebal penumpang dapat
direduksi dan digunakan sejumlah kecil penguatan baja.
3. Dinding Penahan Beton Dengan Sandaran (Lean against type)
Dinding
penahan dengan sandaran sebenarnya juga termasuk dalam kategori dinding
penahan gravitasi tetapi cukup berbeda dalam fungsinya. Apabila
dikatakan dengan cara lain, maka dinding penahan tipe gravitasi harus
berdiri pada alas bawahnya meskipun tidak ada tanah timbunan di belakang
tembok itu, oleh karena itu berat dinding haruslah besar, dan
tergantung dari besarnya kapasitas daya dukung tanah pondasi. Akibatnya,
bila diperlukan dinding penahan yang tinggi maka dinding penahan jenis
ini tidak dipakai. Dengan perkataan
lain, dinding penahan beton dengan sandaran berbeda dalam kondisi
kestabilan dan direncanakan supaya keseimbangan tetap terjaga dengan
keseimbangan berat sendiri badan dinding dan tekanan tanah pada
permukaan bagian belakang.
4. Dinding Penahan Beton Bertulang Dengan Balok Kantilever
Dinding penahan dengan balok kantilever tersusun dari suatu dinding memanjang dan suatu pelat lantai, dinding ini menggunakan aksi konsol untuk menahan massa yang berada di belakang dinding dari kemiringan alami yang terjadi
Masing-masing berlaku sebagai balok kantilever dan kestabilan dari
dinding didapatkan dengan berat badannya sendiri dan berat tanah di atas
tumit pelat lantai. Dinding penahan jenis ini relatif ekonomis dan juga
relatif mudah dilaksanakan.
5. Dinding Penahan Beton Bertulang Dengan Penahan (Buttress)
Dalam
kenyataannya, dinding penahan jenis ini pada umumnya hanya membutuhkan
bahan yang sedikit. Jenis ini digunakan untuk tembok penahan yang cukup
tinggi. Kelemahan dari dinding penahan jenis ini adalah pelaksanaannya
yang lebih sulit dari pada jenis lainnya dan pemadatan dengan cara
rolling pada tanah di bagian belakang adalah jauh lebih sulit.
6. Dinding Penahan Beton Bertulang Dengan Dinding Penyokong
Dinding ini sering disebut Dinding Pertebalan Belakang (Counterfort Retaining Wall)
serupa dengan dinding kantilever, tetapi pada dinding tersebut
digunakan untuk konsol yang panjang atau untuk tekanan-tekanan yang
sangat tinggi di belakang dinding dan mempunyai pertebalan belakang,
yang mengikat dinding dan dasar bersama-sama, yang dibangun pada
interval-interval sepanjang dinding untuk mengurangi momen momen lentur
dan geser.
7. Dinding Penahan Khusus
Jenis
ini adalah dinding penahan khusus yang tidak termasuk dalam tembok
penahan yang disebutkan dalam no1 sampai no 6. Jenis ini dibagi menjadi
dinding penahan macam rak, dinding penahan tipe kotak, dinding penahan
terbuat di pabrik, dinding penahan yang menggunakan jangkar, dinding
penahan dengan cara penguatan tanah dan dinding penahan berbentuk Y
terbalik.
![]() |
Gambar 2.2 Macam-macam tembok penahan / dinding penahan tanah (Suyono & Nakazawa 1980)
2.1.2 Perencanaan Dinding Penahan Tanah
Hal-hal dasar dalam merencanakan dinding penahan tanah :
1. Beban yang dipakai untuk perencanaan
a) Berat sendiri dinding penahan yang terdiri :
· Berat dinding penahan itu sendiri
· Berat tanah pada bagian atas tumit pelat lantai pada tipe balok kantilever
b) Tekanan tanah
c) Beban pembebanan
Apabila
permukaan tanah di bagian belakang dinding akan digunakan untuk jalan
raya, maka pembebanan harus diperhitungkan. Beban dianggap 1 t/m2 dalam pembebanan mobil.
d) Beban lainnya : Daya angkut / apung dan tekanan air
2. Kestabilan Dinding Penahan Tanah
Hal-hal yang perlu diperhatikan :
· Kestabilan terhadap guling
· Geser
· Eksentrisitas
· Daya dukung tanah pondasi
· Kestabilan seluruh sistem
Pemilihan
jenis-jenis dari dinding penahan tanah ditentukan berdasarkan berbagai
macam keperluan termasuk dari segi konstruksi, estetika, dan ekonomis.
Perencanaan dinding penahan tanah adalah sebuah proses yang kompleks
termasuk di dalamnya faktor keamanan dan ekonomis.
2.1.3 Sifat-sifat Tanah
Sifat-sifat
fisis tanah dan struktur tanah yang berhubungan dengan desain dinding
penahan tanah adalah: sudut geser dalam tanah (f), kohesi (c), berat volume (g), sudut geser tanah pada dinding (d) adhesi
antara tanah timbunan dengan dinding, sudut geser tanah pada dasar
pondasi dan adhesi pada dasar pondasi dengan tanah pondasi.
2.1.4 Stabilitas Struktur Dinding Penahan Tanah
Kestabilan DPT umumnya ditinjau dari 3 macam faktor keamanan (FK) yaitu:
a. FK terhadap geser :FKgeser
1,5
b. FK terhadap guling :FK guling
2.0
c. Stabilitas Daya Dukung :qdpt < qijin daya dukung
Gaya-gaya penahan dan penggerak yang bekerja pada DPT adalah:
1. Momen Guling
Tekanan
tanah lateral yang bekerja pada tanah timbunan dan beban permukaan yang
bekerja dapat merobohkan dinding penahan pada kakinya. Momen guling
distabilkan oleh berat dinding dan berat tanah di atas dasar dinding
seperti yang terlihat pada gambar berikut ini:

Gambar2.3 Stabilitas terhadap guling
Dalam
mendesain dinding penahan harus diperoleh ukuran yang sebanding
sehingga total momen stabilitasnya sekurang-kurangnya 50 % lebih besar
dari momen gulingnya. Dengan perkataan lain, faktor keamanan terhadap
guling adalah:
FK =
= 1.5 – 2.0 (minimum)
= 1.5 – 2.0 (minimum)
=
(2.1)
dimana:
W = berat sendiri dinding + berat tanah diatas pondasi
Pah , Pav = komponen horisontal dan vertikal dari tekanan lateral Pa
Momen guling penahan adalah WsXs +WcXc+PvXv dengan mengabaikan Pp
Momen guling penggerak adalah Ph x y
3. Gaya geser
. Tahanan
Pasif tanah di muka dinding biasanya diabaikan dalam analisa
kestabilan. Semua komponen horisontal dari tekanan tanah dapat
menyebabkan dinding bergeser sepanjang dasar dinding. Jika tahanan pasif
diabaikan seperti yang telah disebutkan diatas, gaya geser pada dasar
dinding ditahan oleh gaya horisontal yang terdiri dari gesekan, adhesi,
atau kombinasi keduanya.
Faktor keamanan untuk melawan pergeseran paling sedikit harus 1.5 dengan perhitungan sebagai berikut:
FK =
=
(2.2)
dimana: Gaya geser penahan adalah
Fr =Rtanf'+c'B+Pp (2.3)
R = berat sendiri dinding dan tanah diatas pondasi
c' =
(2.5)
Pp = tekanan pasif
R adalah gaya normal yang bekerja pada bagian base. Pada gambar 2.4 yang dimaksud R = Ws (bagian toe + heel)+}Wc
Gaya geser penggerak adalah Pah

Gambar 2.4 Gaya -gaya yang terlihat dalam guling dan gelincir (bowles, 1993)
4. Daya Dukung Tanah
Dinding penahan harus pula proporsional untuk mendapatkan faktor keamanan yang cukup melawan keruntuhan pondasi.
FK=
(2.6)
Daya dukung ultimit dengan metode terzaghi adalah
qult = cNc+qNq+0,5.g.B.Ng (2.7)
dimana:
c = kohesi
q=Besarnya beban yang bekerja pada dasar (base) DPT
g = berat isi tanah
B = lebar dasar DPT
Nc,Nq,Ng = faktor daya dukung sebagai fungsi dari f (sudut geser dalam)
Yang digunakan dalam tinjauan ini adalah berupa daya dukung ijin (qall) yang didefinisikan sebagai
Qijin = qu / FK (2.8)
Ambil FK untuk daya dukung ini berkisar antara 3-4
Beban yang bekerja dan terjadi pada dasar DPT adalah
qdpt max,min = R/B
(6R.e) / B2
Gambar 2.5 Beban yang bekerja pada dasar DPT (Xanthakos,1995)
Persamaan lain yang dapat digunakan::
(2.10)
e=
danx'=
(2.11)
R=Beratdinding+Pav (2.12)
2.2 Tekanan Tanah Lateral
Tekanan tanah timbul selama pergeseran tanah (soil displacement)
atau selama peregangan tetapi sebelum tanah tersebut mengalami
keruntuhan. Agar dapat merencanakan konstruksi penahan tanah dengan
benar, maka kita perlu mengetahui gaya horisontal yang bekerja antara
konstruksi penahan dan massa tanah yang ditahan. Gaya horisontal
disebabkan oleh tekanan tanah arah horisontal (lateral). Analisa dan
penentuan tekanan tanah lateral sangat penting dalam mendesain dinding
penahan tanah. Besar dan distribusi tekanan lateral yang bekerja pada
struktur dinding penahan tanah atau pondasi tergantung pada regangan
relatif tanah dibelakang struktur.
Timbunan
tanah yang berada di belakang dinding penahan tanah akan mendorong
dinding ke depan menjauhi timbunan. Jika struktur ini merupakan abutmen
pada jembatan, maka dampaknya sangat berbahaya sekali untuk struktur
diatasnya. Jika dorongan dari tanah lateral tersebut lebih besar dari
tahanannya maka abutmen tersebut akan patah, struktur yang ada diatasnya
(contohnya adalah girder pada jembatan ) bisa runtuh. Hal ini merupakan
beban dalam arah lateral yang harus diperhatikan
pada saat mendesain dinding penahan tanah itu. Pada waktu analisis
perhitungan, umumnya besarnya tekanan tanah dan gaya-gaya diambil untuk
suatu unit panjang potongan (pias) selebar satu meter. Distribusi
tegangan tanah lateral akibat berat sendiri tanah biasanya berbentuk
segitiga (hidrostatis), dengan nilai maksimum pada dasar dinding penahan
tanah.
Terdapat
hal-hal mendasar yang berkaitan dengan tekanan tanah lateral pada
dinding penahan tanah, dimana pada umumnya dinding berada di dalam
keadaan di bawah ini:
- Kondisi tekanan tanah pada keadan diam
- Kondisi tekanan tanah aktif
- kondisi tekanan tanah pasif
2.2.1 Tanah Dalam Keadaan Diam (Earth Pressure At Rest)
Tekanan
tanah pada kondisi diam adalah tekanan lateral oleh tanah yang
dihindarkan dari pergerakan lateralnya oleh suatu dinding struktur yang
tidak memberikan perubahan bentuk / posisi (unyielding wall).
Kondisi ini terjadi jika regangan lateral pada tanah sama dengan nol,
yang dapat dijumpai antara lain pada tekanan-tekanan tanah yang bekerja
pada dinding-dinding suatu lantai dasar
( basement ), jembatan beton portal.
Pada
kondisi ini besarnya tekanan tanah pada dinding penahan berada diantara
tekanan tanah aktif dan tekanan tanah pasif. Untuk melakukan analisis
tekanan tanah pada keadaan diam, dilakukan tinjauan kondisi tekanan pada
suatu elemen tanah di kedalaman z.
![]() |
Gambar 2.6 Tinjauan kondisi tekanan pada kedalaman z
Asumsi tanah yang digunakan teori elastisitas:
· Semi infinite
· Homogen
· Elastik isotropik
Ditinjau elemen tanah pada kedalaman z dari permukaan tanah. Tegangan vertikal yang bekerja pada elemen tanah tersebut adalah:

Gambar. 2.7 Distribusi Tekanan Tanah Dalam Keadaan Diam
Jika
ada dinding dekat dengan tanah yang ditinjau, maka pada dinding akan
memperoleh gaya horizontal seperti persamaan berikut ini. Tekanan tanah
lateral
dalam keadaan diam dinyatakan dalam Po dan dengan mensubtitusikan
didapat :
Jika
ditentukan bahwa diagram distribusi tekanan berbentuk triangular
(hidrostatis) dan tekanan total dapat dilihat pada (2.5a). Tekanan sama
dengan nol pada z = 0, tekanan sama dengan Ko g H pada dasar dinding ( z = H ). Tekanan total per unit panjang dengan tinggi dinding sama dengan H adalah:
.H2 (2.15)
Keterangan simbol:
Ko = koefisien tekanan tanah lateral dalam keadaan diam
Po = tekanan pada dasar dinding
Po = gaya resultant per unit panjang dinding
g =berat volume tanah
H = tinggi dinding
Nilai Ko tergantung dari nilai sudut geser dalam (
)dan Indeks Plastisitas (PI).
Berikut ini merupakan cara mencari nilai Ko menurut jenis tanahnya:
· Untuk jenis tanah granular / pasir, nilai Ko diperoleh dari rumus empiris:
Ko = 0.4 untuk tanah pasir padat (dense sand)
Ko = 0.5 untuk tanah pasir lepas (loose sand)
· Untuk jenis tanah clay / lempung, nilai Ko diperoleh dari rumus empiris:
PI < 40 Ko = 0.4 + 0.007( PI)
40 < PI < 80 Ko = 0.64 + 0.001 (PI)
· Untuk ˝tanah normally consolidated clay˝, nilai Ko dapat diperoleh dari rumus empiris:
Ko=0.19+0.233log(PI) (2.18)
Jika ditentukan bahwa diagram tekanan pada dinding berupa segitiga dan tekanan totalnya sebesar:
Resultan Po bekerja melalui titik pusat segitiga diagram tekanan, yaitu pada
dari dasar dinding.
2.2.2 Tekanan Tanah Aktif
Kondisi
tekanan tanah aktif yaitu kondisi dimana dinding bergerak menjauhi
bagian tanah timbunan / timbul apabila dinding penahan tanah bagian atas
bergerak relatif ke depan relatif terhadap dasarnya, hal ini disebabkan
oleh adanya momen yang terjadi atau bekerja pada dinding tersebut.
Struktur
dinding penahan tanah biasanya terdiri dari batu kali dan beton,
sehingga permukaan tidak halus. Hal ini sangat berlawanan dengan teori
rankine yang memperhitungkan gaya geser, konsekuensinya adalah resultan
dari tekanan akan sejajar dengan permukaan tanah urugan / timbunan (backfill). Jika gaya
geser dimasukkan dalam analisa perhitungan maka resultan tekanan akan
bekerja miring pada dinding dan sudut yang terjadi mendekati sudut gaya
geser antara dinding dengan tanah. Jika tanah di belakang dinding adalah
tanpa kohesi maka dapat ditinjau beberapa kondisi sebagai berikut:
- Tanah timbunan kering tanpa beban permukaan
- Tanah timbunan terendam air
- Tanah timbunan dengan beban merata permukaan
2.2.2.1 Tanah Timbunan Kering Tanpa Beban Permukaan
Ditinjau elemen tanah dengan kedalaman z di bawah permukaan.

Gambar 2-8. Distribusi Tekanan Aktif
Untuk c = 0
jadi

sh = tekanan tanah lateral (tegangan utama minimum) = Pa
sv = tekanan tanah vertikal (tegangan utama maksimum) = g.z
sehingga
Gambar 2-8 memperlihatkan distribusi tekanan aktif Pa pada dinding. Pada kedalaman z =H tekanan tanah adalah:
Pa =Ka.g . H (2.25)
Total
tekanan aktif Pa atau resultan tekanan persatuan panjang pada dinding
didapat dengan mengintregasikan persamaan (2.28) atau sama dengan luas
diagram distribusi yang berbentuk segitiga.
Pa =
.Ka.g.H2 (2.26)
Resultan gaya bekerja pada
diatas dasar dinding. Untuk tanah kering g adalah berat jenis untuk tanah kering ( gdry ), sedangkan untuk tanah lembab yang digunkan berat jenis tanah lembab (gmoist ). Tetapi jika tanah dalam keadaan jenuh, harga g' = (gsat - gw ) dipergunakan. Hal ini dijelaskan pada bagian berikutnya.
2.2.2.2.Tanah Timbunan Terendam Air
Untuk tanah timbunan yang terendam air, yang menyebabkan terjadinya tekanan lateral dibedakan menjadi dua komponen yaitu:
1. Tekanan lateral akibat tekanan tanah jenuh air
2. Tekanan lateral akibat tekanan air
Tinjau elemen tanah pada kedalaman z dibawah permukaan:
Pa = Ka.g'.z + gw.z (2.27)
Tekanan pada dasar dinding ( z = H ) adalah:
Pa = Ka.g'.H + gw.H (2.28)
Jika
air berada pada kedua sisi dinding, tekanan akibat air tidak
diperhitungkan karena saling menghilangkan dan tekanan lateral yang
terjadi adalah:
Pa = Ka.g'.H (2.29)
Untuk tanah timbunan yang tidak seluruhnya jenuh air, sebagai contoh sampai kedalaman H1 adalah
tanah lembab, kemudian di bagian bawah tanah tersebut merupakan tanah
jenuh air maka intensitas tekanan lateral pada dasar dinding adalah:
Gambar. 2.9 Distribusi Tekanan Tanah Jenuh Sebagian
Pa = Ka.g.H1 + Ka. g'.H2+gw. H2 (2.30)
Pada pembahasan terdahulu harga
dianggap sama untuk semua lapisan baik untuk tanah lembab atau untuk tanah jenuh air. Jika harga
tidak sama, misal
dan
2 serta koefisien tanah lateral adalah Ka1 dan Ka2 maka intensitas tekanan lateral pada dasar dinding adalah:
Pa=Ka1.g.H1+Ka2. g'.H2+gw.H2 (2.31)
Harga
berpengaruh terhadap besar nilai koefisien tekanan tanah ( Ka), jika harga
berkurang maka nilai koefisien tekanan tanah bertambah dan sebaliknya.
2.2.2.3.Tanah Timbunan Dengan Beban Merata Permukaan
Pada
tanah timbunan dengan permukaan horisontal yang diatasnya bekerja beban
merata permukaan sebesar q akan menyebabkan meningkatnya tekanan
lateral sebesar Ka q sehingga tekanan lateral pada kedalaman z adalah :
Pa=Ka.g.z+Ka.q (2.32)
Pada dasar dinding ( z = H ) intensitas tekanan sebesar :
Pa=Ka.g.H +Ka.q (2.33)
Peningkatan tekanan sebesar Ka q tidak terpengaruh oleh kedalaman atau besarny Ka q adalah konstan karena pada setiap kedalaman
Gambar 2-10. Distribusi Tekanan Tanah akibat beban merata
2.2.3 Tekanan Tanah Pasif
Kondisi
tekanan tanah pasif yaitu kondisi dimana dinding bergerak relatif
menuju tanah timbunan / kondisi yang timbul akibat tanah itu didesak
oleh dinding penahan tanah, sebagai contoh biasanya tekanan pasif timbul pada kaki dinding penahan (bagian depan muka dinding).
Jika
pergeseran dinding ditahan oleh tanah yang berada di depan kaki dinding
setinggi z. Apabila dinding bergeser, maka tanah penahan akan tertekan
perlahan-lahan. Tegangan vertikal
v tetap konstan dan
h bertambah.
Tekanan tanah pasif diturunkan pada kondisi keseimbangan pasif. Disini
tekanan lateral berfungsi sebagai tekanan utama maksimum dan tekanan
vertikal sebagai tekanan utama minimum.
2.2.3.1. Tanah Timbunan Tanpa Kohesi
Hubungan kedua tegangan tersebut adalah sebagai berikut:
Pp = g.z tan2
= Kp.g.z
Dimana :
Pp = intensitas tekanan tanah pasif
Kp = koefisien tekanan tanah pasif dari Rankine
Kp=tan2a =N
=
=
(2.36)
Distribusi tekanan tanah pasif adalah berbentuk segitiga dengan harga maksimum sebesar Kp g H di dasar dinding pada kedalaman H
Total merupakan hasil integrasi Kp g z dengan kedalaman H didapat :
Pp=
(2.37)
(2.37)
Apabila
diatas tanah timbunan bekerja beban merata permukaan sebesar q, tekanan
tanah pasif bertambah sebesar Kp q. Besar tekanan tanah pasif pada
kedalaman z menjadi :
Pp=Kp(g.z+q) (2.38)
2.2.3.2 Tanah Timbunan Bersifat Kohesif
Untuk
tanah timbunan yang ada di belakang dinding yang bersifat kohesif,
hubungan tegangan utama pada saat kondisi runtuh adalah
Untuk kasus tekanan tanah pasif, dengan mensubtitusikan harga
dan
didapat :
Pp=g.ztan2
+2ctan
(2.40)
= g.z.N
+2ctan
(2.41)
Untuk z = 0, Pp = 2 c tan a
z=H,Pp=g.Htan2
+2ctan
(2.42)
2.2.4 Teori Tekanan Tanah Lateral
Untuk menentukan tekanan tanah secara analitis, ada dua yaitu:
- Teori Rankine (1857)
- Teori Coulumb(1776)
Teori Rankine
Yang
dimaksud dengan keseimbangan plastis ( plastic equilibrium) di dalam
tanah adalah suatu keadaan yang menyebabkan tiap-tiap titik di dalam
massa tanah menuju proses ke suatu keadaan runtuh. Rankine menyelidiki
kedaan tegangan di dalam tanah yang berada pada kondisi keseimbangan
plastis.
Asumsi yang menjadi dasar teori rankine yaitu:
1. Massa tanah adalah semi infinite, homogen (semua sama), kering, berbutir kasar, dan tanpa kohesi.
2. Tanah permukaan datar (rata), horisontal atau membentuk sudut dengan bidang horisontal.
3. Antara dinding dengan tanah tidak ada geseran (friction) / gaya geser(shear stress) karena dindingnya vertikal dan halus / licin (smooth wall).
4. Dinding bergerak terhadap dasar dan deformasi yang menyebabkan kondisi keseimbangan plastis dipenuhi.
5. Tekanan
tanah lateral dan tinggi / kedalaman dinding berhubungan linier,
resultan dari tekanan bekerja 1/3 jarak vertikal dari bagian dasar
dinding ke permukaan tanah ( arah resultannya sejajar dengan permukaan tanah).
6. Sliding (longsoran) terjadi dengan terbentuknya sliding wedge( kelongsoran baji tanah).
Pada
kenyataannya hasil analisa berdasarkan teori rankine menghasilkan
desain dinding sedikit lebih besar sehingga memberi sedikit tambahan
pada faktor keamanan.
Cara ini hanya berlaku untuk tanah yang uniform coheionless soils saja
(c = 0 dan f = 0), tidak ada kohesi dinding dan gesekan dinding). Hal berikut ini dapat ditunjukkan pada gambar di bawah ini.
Gambar 2.11. Kondisi Rankine Aktif ( Bowles, 1993)
Persamaan tekanan tanah aktif menurut Rankine adalah sebagai berikut:
Pa =
g.H2. Ka (2.43)
dimana :
(2.44)
Tekanan tanah pasif dengan cara Rankine dapat dicari dengan cara berikut:
Pp=
g.H2.Kp (2.48)
dimana:
(2.45)
(2.45)
Gambar 2.12. Kondisi Rankine Pasif
Pengaruh kohesi memberikan hasil :
Kedua persamaan menunjukkan bahwa dengan adanya kohesi berarti mengurangi tekanan tanah aktif

Gambar 2.13 Kondisi Rankine Aktif dengan keretakan pada tanah kohesif
Tekanan Tanah Coulumb
Pada
teori Rankine terdapat anggapan/asumsi bahwa antara tanah dan dinding
tidak ada gaya geser. Pada kenyataannya gaya geser yang terjadi antara
tanah dan dinding struktur penahan memberi pengaruh tekanan geser
vertikal dari tanah, jadi pada keadaan seperti ini terdapat tekanan
lateral pada dinding yang pada kenyataanya berbeda dengan asumsi
Rankine. Untuk mengatasi kondisi yang memperhitungkan adanya friction dan
gaya geser antara tanah dan dinding, dapat dimanfaatkan teori coulumb
yang memperhitungkan adanya pengaruh pada tekanan-tekanan tangensial
sepanjang permukaan kontak akibat geseran dinding (wall friction).
Anggapan-anggapan dasar di dalam teori tekanan tanah Coulumb adalah sebagai berikut:
- Tanah adalah isotropik dan homogen yang mempunyai gesekan dalam dan kohesi, dimana s= c + sn tan
- Bidang runtuh adalah sebuah bidang rata. Permukaan urugan balik ( backfill surface) merupakan bidang datar.
- Dengan nilai yang sama gaya-gaya geekan didistribusikan sepanjang permukaan runtuh yang rata, dan koefisien gesekan f = tan f
- Keping runtuh ( failure wedge) adalah sebuah bidang tegar.
- Adanya gesekan dinding, yaitu keping runtuhan bergerak dalam kaitan terhadap bagian punggung dari dinding, maka berkembanglah suatu gaya gesek antara tanah dan dinding. Sudut gesekan ini biasanya dinamakan d.
- Keruntuhan adalah suatu persoalan peregangan dinding, tinjaualah satu satuan panjang dari sebuah benda yang panjangnya tak berhingga.
Kekurangan utama dari teori Coulumb adalah tanah ideal dan permukaan runtuh adalah bidang rata.
Persamaan-persamaan yang didasarkan pada teori Coulumb untuk tanah aktif tak berkohesi didapat dari gambar berikut ini.

Gambar 2.14. Kondisi Coulumb Aktif (Bowles, 1993)
Pa=
g.H2.Ka (2.48)
dimana:
(2.49)
(2.49)
Ka yaitu koefisien yang mengandung unsur
tapi tidak tergantung pada gdan H.
Untuk sebuah dinding vertikal licin yang mempunyai urugan balik horisontal, dimana
dan
persamaan ( 2.48 ) dapat disederhanakan sebagai berikut:
=
(2.51)
yang juga merupakan persamaan Rankine untuk tekanan tanah aktif yang akan ditinjau dalam bagian berikutnya.
Persamaan yang didasarkan pada teori Coulumb untuk tekanan tanah pasif didapat dari gambar 3-4.

Gambar 2.15 Kondisi Coulumb Pasif (Bowles, 1993)
Pp=
g.H2.Kp (2.52)
dimana
(2.53)
2.3. Distribusi Tegangan Tanah Lateral Aktif Akibat Beban Permukaan
Beban
permukaan sebagai beban tambahan akan menimbulkan peningkatan tegangan
yang terjadi. Beban permukaan tersebut dapat berupa beban titik atau
beban merata tergantung jenis atau bentuk struktur yang membebani.
Distribusi
tegangan akibat beban permukaan dengan mengabaikan tegangan akibay
tanah diselidiki oleh Boussinesq. Teori Boussinesq adalah metoda yang
lebih mengarah pada matematika, untuk memperkirakan tekanan tanah pada
berbagai titik di dalam suatu lapisan tanah. Teori ini didasarkan pada metoda elastisitas.
Asumsi Boussinesq adalah:
· Berat sendiri tanah diabaikan
· Massa tanah elastis, homogen, isotropik dan semiinfinite
· Perubahan volume diabaikan
· Massa tanah belum berdeformasi sebelum dibebani
· Terjadi kesinambungan tegangan
· Distribusi tegangan identik dengan distribusi tegangan dalam arah vertikal
Konstruksi tiang, beban roda kendaraan adalah contoh konstruksi yang menimbulkan beban terpusat.
2.3.1. Beban Terpusat
Beban
titik yang terletak pada tanah timbunan akan menimbulkan tekanan dalam
arah lateral. Sehingga tekanan tanah yang bekerja pada dinding penahan
tanah timbunan tersebut akan meningkat. Spangler dan Mickle (1956) telah
menurunkan persamaan berdasarkan metoda elastisitas. Besar tekanan
tanah lateral akibat beban terpusatadalh sebagai berikut:
m>0.4,
(2.54)
m
,
(2.55)

Gambar 2.16. Distribusi Tegangan Lateral akibat Beban Terpusat (Boussinesq)
Konstruksi tiang, beban roda kendaraan adalah contoh konstruksi yang menimbulkan beban terpusat.
2.3.2. Beban Merata
Pada
perencanaan dinding penahan tanah untuk memeriksa dimensi relatif dari
struktur dinding harus ditentukan jenis pembebanan apapkah dapat
ditinjau sebagai beban garis (line load) atau beban jalur (strip load).
Sebuah blok beton atau pagar dapat dipandang sebagai beban garis, pipa
selubung yang terletak di atas tanah adalah contoh lain beban garis.
Beban-beban jalur dapat dipandang sebagai deret beban garis yang
paralel.
2.3.2.1. Beban Garis
Dengan menggunakan perbandingan-perbandingan m, n dari persamaan Boussinesq maka tegangan yang terjadi pada dinding untuk m = 0.5 adalah:
m > 0.4,
(2.56)
m
(2.57)

Gambar 2.17. Distribusi Tegangan Lateral Akibat Beban Garis
2.3.2.2. Beban Jalur
Beban
jalur adalah intensitas pembebanan yang lebarnya tertentu, seperti
jalan raya, jalan kereta api, atau tanggul tanah yang sejajar dengan
struktur penahan. Terzaghi (1943) menyajikan persamaan untuk tegangan
yang diakibatkan beban jalur sebagai:


Tidak ada komentar:
Posting Komentar