Minggu, 21 Juli 2013

Macam-macam Alat berat dan Fungsinya

Macam-macam Alat berat dan Fungsinya

Eksistensi alat berat dalam proyek-proyek dewasa ini baik proyek konstruksi maupun proyek manufaktur sangatlah penting guna menunjang Pemerintah baik dalam pembangunan infastruktur maupun dalam eksplore hasil-hasil tambang, misalnya semen dan batubara. Keuntungan-keuntungan dengan menggunakan alat-alat berat antara lain waktu yang sangat cepat, tenaga yang besar dan nilai-nilai ekonomis.
Penggunaan alat berat yang kurang tepat dengan kondisi dan situasi lapangan pekerjaan akan berpengaruh berupa kerugian antara lain rendahnya produksi, tidak tercapainya jadwal atau target yang telah ditentukan atau kerugian biaya perbaikan yang tidak semestinya. Oleh karena itu, sebelum menentukan tipe dan jumlah peralatan dan attachmentnya sebaiknya dipahami terlebih dahulu fungsi dan aplikasinya.
Berikut Kami share macam-macam alat berat beserta fungsinya, agar dapat dipahami dalam penggunaannya.
1.   Pengertian Alat-alat berat
 Alat-alat berat (yang sering dikenal di dalam ilmu Teknik Sipil) merupakan alat yang digunakan untuk membantu manusia dalam melakukan pekerjaan pembangunan suatu struktur bangunan. Alat berat merupakan faktor pentingdidalam proyek, terutama proyek-proyek konstruksi maupun pertambangan dankegiatan lainnya dengan skala yang besar (Rostiyanti  2009)
Tujuan dari penggunaan alat-alat berat tersebut adalah untuk memudahkan manusia dalam mengerjakan pekerjaannya, sehingga hasil yang diharapkan dapat tercapai dengan lebih mudah dengan waktu yang relatif lebih singkat.
Alat berat yang umum dipakai dalam proyek kostruksi antara lain :
- Dozer,
- Alat gali (excavator) seperti backhoe, front shovel, clamshell;
- Alat pengangkut seperti loader, truck dan conveyor belt;
- Alat pemadat tanah seperti roller dan compactor, dan lain lain.
2.    Klasifikasi alat-alat berat
 Alat berat juga dapat dikategorikan ke dalam beberapa klasifikasi. Klasifikasi tersebut adalah klasifikasi fungsional alat berat dan klasifikasi operasional alat berat.
2.1. Klasifikasi Fungsional Alat Berat
Yang dimaksud dengan klasifikasi fungsional alat adalah pembagian alat tersebutberdasarkan fungsi-fungsi utama alat. Berdasarkan fungsinya alat berat dapatdibagi atas berikut ini (Rostiyanti 2009)
a. Alat Pengolah Lahan
Kondisi lahan proyek kadang-kadang masih merupakan lahan asli yang harus dipersiapkan sebelum lahan tersebut mulai diolah. Jika pada lahan masih terdapat semak atau pepohonan maka pembukaan lahan dapat dilakukan dengan menggunakan dozer. Untuk pengangkatan lapisan tanah paling atas dapat digunakan scraper. Sedangkan untuk pembentukan permukaan supaya rata selain dozer dapat digunakan juga motor grader.
Gambar.1.1
Dozer
Bulldozer dapat dibedakan menjadi dua yakni menggunakan roda kelabang (Crawler Tractor Dozer) dan Buldoser yang menggunakan roda karet (Wheel Tractor Dozer). Pada dasarnya Buldoser menggunakan traktor sebagai tempat dudukan penggerak utama, tetapi lazimnya traktor tersebut dilengkapi dengan sudu sehingga dapat berfungsi sebagai Buldoser yang bisa untuk menggusur tanah.
Buldoser digunakan sebagai alat pendorong tanah lurus ke dapan maupun ke samping, tergantung pada sumbu kendaraannya. Untuk pekerjaan di rawa digunakan jenis Buldoser khusus yang disebut Swamp Bulldozer.
b. Alat Penggali
Jenis alat ini dikenal juga dengan istilah excavator. Beberapa alat berat digunakan untuk menggali tanah dan batuan. Yang termasuk didalam kategori ini adalah front shovel, backhoe, dragline, dan clamshell.
Gambar.1.2
Backhoe
c. Alat Pengangkut Material
Crane termasuk di dalam kategori alat pengangkut material, karena alat ini dapat mengangkut material secara vertical dan kemudian memindahkannya secara horizontal pada jarak jangkau yang relatif kecil. Untuk pengangkutan material lepas (loose material) dengan jarak tempuh yang relatif jauh, alat yang digunakan dapat berupa belt, truck dan wagon. Alat-alat ini memerlukan alat lain yang membantu memuat material ke dalamnya.
Gambar1.3
Truk
d. Alat Pemindahan Material
Yang termasuk dalam kategori ini adalah alat yang biasanya tidak digunakan sebagai alat transportasi tetapi digunakan untuk memindahkan material dari satu alat ke alat yang lain. Loader dan dozer adalah alat pemindahan material.
Gambar1.4
Loader
e. Alat Pemadat
Jika pada suatu lahan dilakukan penimbunan maka pada lahan tersebut perlu dilakukan pemadatan. Pemadatan juga dilakukan untuk pembuatan jalan, baik untuk jalan tanah dan jalan dengan perkerasan lentur maupun perkerasan kaku. Yang termasuk sebagai alat pemadat adalah tamping roller, pneumatictiredroller, compactor, dan lain-lain. Pekerjaan pembuatan landasan pesawat terbang, jalan raya, tanggul sungai dan sebagainya tanah perlu dipadatkan semaksimal mungkin. Pekerjaan pemadatan tanah dalam skala kecil pemadatan tanah dapat dilakukan dengan cara menggenangi dan membiarkan tanah menyusust dengan sendirinya, namun cara ini perlu waktu lama dan hasilnya kurang sempurna; agar tanah benar-benar mampat secara sempurna diperlukan cara-cara mekanis untuk pemadatan tanah.
Pemadatan tanah secara mekanis umumnya dilakukan dengan menggunakan mesin penggilas (Roller); klasifikasi Roller yang dikenal antara lain adalah:
  • Berdasarkan cara geraknya; ada yang bergerak sendiri, tapi ada juga yang harus ditarik traktor.
  • Berdasarkan bahan roda penggilasnya, ada yang terbuat dari baja (SteelWheel) dan ada yang terbuat dari karet (pneumatic).
  • Dilihat dari bentuk permukaan roda; ada yang punya permukaan halus (plain), bersegmen, berbentuk grid, berbentuk kaki domba, dan sebagainya.
  • Dilihat dari susunan roda gilasnya; ada yang dengan roda tiga (Three Wheel), roda dua (Tandem Roller), dan Three Axle Tandem Roller.
  • Alat pemadat yang menggunakan penggetar (vibrator).
  • Gambar.1.5
    Tandem Roller
    f. Alat Pemroses Material
    Alat ini dipakai untuk mengubah batuan dan mineral alam menjadi suatu bentuk dan ukuran yang diinginkan. Hasil dari alat ini misalnya adalah batuan bergradasi, semen, beton, dan aspal. Yang termasuk didalam alat ini adalah crusher dan concrete mixer truck. Alat yang dapat mencampur material-material di atas juga dikategorikan ke dalam alat pemroses material seperti concretebatch plant dan asphalt mixing plant.
  • Gambar. 1.6.
    Concrete Mixer Truck
      g. Alat Penempatan Akhir Material
    Alat digolongkan pada kategori ini karena fungsinya yaitu untuk menempatkan material pada tempat yang telah ditentukan. Ditempat atau lokasi ini material disebarkan secara merata dan dipadatkan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Yang termasuk di dalam kategori ini adalah concrete spreader, asphalt paver, motor grader, dan alat pemadat.
Gambar. 1.7
Asphalt Paver
  • 2.2. Klasifikasi operasional Alat Berat
    Alat-alat berat dalam pengoperasiannya dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain atau tidak dapat digerakan atau statis. Jadi klasifikasi alat berdasarkan pergerakannya dapat dibagi atas berikut ini.
    a. Alat dengan Penggerak
    Alat penggerak merupakan bagian dari alat berat yang menerjemahkan hasil dari mesin menjadi kerja. Bentuk dari alat penggerak adalah crawler atau roda kelabang dan ban karet. Sedangkan belt merupakan alat penggerak pada conveyor belt.
Gambar. 1.8
Crawlercrane
  • b. Alat Statis
    Yang termasuk dalam kategori ini adalah towercrane, batching plant, baik untuk beton maupun untuk aspal serta crusher plant.
  • Gambar. 1.9
    Tower Crane
     Crane (alat pengangkat) jenisnya ada bermacam-macam: Crane gelegar, cranekolom putar, crane putar, crane portal, crane menara, crane kabel, dan mobil crane. Beberapa jenis Crane banyak digunakan dalam proyek-proyek bangunan sipil yang berkaitan dengan pemindahan tanah adalah mobile crane, sebab craneini dapat dengan mudah dipindah-pindahkan, karena pekerjaan pemindahan tanah secara mekanis membutuhkan mobilitas alat yang relatif tinggi
3.  Fungsi alat berat
Dirancang untuk melakukan berbagai aplikasi kehutanan dengan konfigurasi LogLoader, Harvester/Processor, dan Road Builder.
Gambar. 1.10
Alat Berat Kehutanan
Sumber: Wedhanto (2009)
Backhoe Loadermerupakan gabungan dari dua alat berat yang berbeda fungsinya. Bagian depan dilengkapi dengan bucket dan berfungsi sebagaimana loader dan bagian belakang dilengkapi dengan perlengkapan yang sama dengan yang digunakan pada excavator
Gambar. 1.11
BACKHOE LOADER
                                                                                                     
Alat penggali sering juga disebut Excavator; ada dua tipe Excavator yaitu:
(1) Excavator yang berjalan menggunakan roda kelabang / track shoe (Crawler Excavator) dan
(2) Excavator yang menggunakan ban (Wheel Excavator).
Gambar. 1.12
HIDRAULIC EXCAVATOR
Sumber: catalogue Komatsu
Excavator digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan seperti :
Excavating (menggali)
Loading (memuat material)
Lifting (mengangkat beban)
Hammering (menghancurkan batuan)
Drilling (mengebor), dan lain sebagainya
Perbedaan mendasar antara Excavator dan Mass Excavator terdapat pada kapasitas implement yang digunakan.
Alat perata tanah (Grader) berfungsi untuk meratakan pembukaan tanah secara mekanis; dusamping itu Grader dapat dipakai pula untuk keperluan lain misalnya untuk penggusuran tanah, pencampuran tanah, meratakan tanggul, pengurugan kembali galian tanah dan sebagainya; akan tetapi khusus untuk penggunaan pada pekerjaan pengurugan kembali galian tanah hasilnya kurang memuaskan.
Gambar. 1.13
MOTOR GRADER
Sumber: Wedhanto (2009)
Beberapa pekerjaan yang dapat dikerjakan oleh Grader antara lain adalah:
  • · Perataan tanah (Spreading).
  • · Pekerjaan tahap akhir (finishing) pada “pekerjaan tanah”.
  • · Pencampuran tanah maupun pencampuran material (Side cast/mixing).
  • · Pembuatan parit (Crowning Ditching)
  • · Pemberaian butiran tanah (scarifying)
Pada umumnya Grader digunakan untuk pekerjaan yang berhubungan dengan pembangunan dan pemeliharaan jalan, diantaranya :
Grading, Spreading, Ditching
• Scarifying
• Side Sloping
• Dozing
• Ripping
 Tergantung attachment (perlengkapan kerja) nya, Skid Steer Loader, disingkat SSL, dapat digunakan untuk berbagai keperluan, diantaranya :
Loading, Dozing,
• Digging,
 • Clamping,
• Grading, Leveling, dan sebagainya.
Gambar. 1.14
Skid Steer Loader
Sumber: Wedhanto (2009)
Gambar. 1.15
Skidder
Sumber: Wedhanto (2009)
Ada dua jenis Skidder yang digunakan yaitu :
Wheel Skidder
Track Skidder
 Kegunaan dari Skidder adalah untuk menarik batang kayu. Pekerjaan ini biasanya banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan kayu (logging).
Gambar. 1.16
Wheel Tractor Scrapper
Sumber: Wedhanto (2009)
Wheel Tractor Scrapper, disingkat WTS, digunakan untuk memuat, memindahkan, menyebarkan dan mem-buang material dalam rangka pemeliharaan jalan. Alat ini digunakan untuk menggali muatannya sendiri, lalu mengangkut ke tempat yang ditentukan, kemudian muatan itu disebagkan dan diratakan. Scrapper mampu menggali/ mengupas permukaan tanah sampai setebal + 2,5 mm atau menimbun suatu tempat sampai tebal minimum + 2,5 mm pula. Scrapper dapat digunakan untuk memotong lereng tanggul atau lereng bendungan, menggali tanah yang terdapat diantara bangunan beton, meratakan jalan raya atau lapangan terbang. Efisiensi penggunaan Scrapper tergantung pada: (1) kedalaman tanah yang digali, (2) kondisi mesin, dan (3) operator yang bekerja.
Jika ditinjau dari penggeraknya, jenis Scrapper ada dua macam yakni:
(1)  Scrapper yang ditarik Buldoser (Down Scrapper Tractor), dan
(2)  Scrapper yang memiliki mesin penggerak sendiri (Self Propelled Scrappers).
 Down Scrapper Tractor adalah jenis Scrapper kuno, Scrapper ini bekerja dengan ditarik oleh Buldoser atau traktor sehingga punya kapasitas produksi yang kecil, sebab gerakan Buldoser sebagai alat penarik sangat lamban, dan jarak angkut yang ekonomis kurang dari 67 m. Self Propelled Scrappers adalah jenis Scrapper yang modern dan saat ini banyak digunakan. Scrapper ini memiliki mesin penggerak khusus sehingga gerakannya gesit dan lincah. Produksi SelfPropelled Scrappers dapat tinggi, jika digunakan untuk mengangkut jarak yang sedang (+ 5 km) efektivitasnya dapat menyaingi truck, baik itu dalam produksi beaya tiap ton (m3) maupun kecepatannya.
Gambar 1.17
Articulated Dump Truck
Sumber: Wedhanto (2009)
Articulated Dump Truck, disingkat ADT, digunakan untuk memindahkan dan membuang material dengan kapasitas terbatas dan kondisi jalan berlumpur.
Gambar 1.18
Off Highway Truck
Sumber: Wedhanto (2009)
Sama halnya dengan ADT, Off Highway Truckjuga digunakan untuk memindahkan material dengan kapasitas yang besar mulai 40T sampai 360T.
Gambar.1-19.
Wheel Dozer
Sumber: Wedhanto (2009)
Mesin ini merupakan wheel loader yang dilengkapi dengan blade, dimana kegunaanya hampir sama dengan dozer.
Gambar.1.20
Track Type Loader
Sumber: Wedhanto (2009)
Track Type Loaderdigunakan untuk memuat material, sama halnya dengan wheel loader, hanya saja menggunakan track dan kapasitasnya lebih kecil.
Gambar 1.21.
Wheel Loader
Loaderadalah alat pemuat hasil galian/ gusuran dari alat berat lainnya seperti Buldoser, Grader dan sejenisnya. Pada prinsipnya Loader merupakan alat pembantu untuk menngangkut material dari tempat-tempat penimbunan ke alat pengangkut lain. Selain itu Loader dapat digunakan sebagai alat pembersih lokasi (Cleaning) yang ringan, untuk menggusur bongkaran, menggusur tonggaktonggak kayu kecil, menggali pondasi basement dan lain-lain.
 Loader merupakan alat pengangkut material dalam jarak pendek, bila digunakan sebagai alat pengangkut maka Loader dapat bekerja lebih aik dari Buldoser, sebab dengan menggunakan Loader tak ada material yang tercecer. Jenis Loader ada dua yaitu :
(1) Loader dengan roda rantai (CrawlerLoader), dan
(2) Loader dengan roda karet (Wheel Loader).
Dalam pemilihan Loader sebagai alat pengangkut, hal yang perlu diperhitungkan adalah beban harus diperhitungkan jangan sampai berat muatan melebihi berat dari loader itu sendiri, sebab ada kemungkinan Loader dapat terjungkal ke depan, lebihlebih jika digunakan Wheel Loader.
Kegunaan dari Wheel Loader adalah untuk memuat material ke dalam ADT atau OHT. Pada wheel loader kecil dan menengah, bisa juga digunakan untuk aplikasi lainnya (tergantung dari attachment yang digunakan) seperti : WHA (Waste Handling Arrangement) Integrated Toolcarrier, Forklift dan sebagainya.
Gambar. 1.22
Track Type Tractor
Sumber: Wedhanto (2009)
Track Type Tractoratau Bulldozer atau Dozer adalah alat yang dirancang untuk mendorong material, meratakan atau menyebarkan material, mengupas permukaan tanah dan penggunaan lainnya yang sesuai.
Disamping itu ada kegunaan lainnya yang bisa dilakukan oleh machine ini, tergantung dari attachment yang dipasangkan, yaitu :
Ripping, bila dilengkapi dengan Ripper
Skidding, bila dilengkapi dengan Winch
Gambar.1- 23
Telehandler
Sumber: Wedhanto (2009)
Penggunaan Telehandler tergantung dari attachment yang dipasangkan pada mesintersebut. Misalnya bisa digunakan sebagai forklift dengan daya jangkau yang lebih jauh.
Power  Shovel
Dengan memberikan shovel attachment  pada excavator, maka disapatkan alat yang disebut dengan power shovel. Alat ini baik untuk pekerjaan menggali tanah tanpa bantuan alat lain, dan sekaligus memuatkan ke dalam truk atau alat angkut lainnya. Alat ini juga dapat untuk mebuat timbunan bahan persediaan (stock pilling).
 Pada umumnya power shovel  ini dipasang di atas crawler mounted, karena diperoleh keuntungan yang besar antara lain stabilitas dan kemampuan floatingnya. Power shovel  di lapangan digunakan terutama untuk menggali tebing yang letaknya lebih tinggi dari tempat kedudukan alat. Macam  shovel  dibedakan dalam dua hal, ialah shovel  dengan kendali kabel (cable controlled), dan shovel dengan kendali hidrolis (hydraulic controlled).
 
Gambar :  Front shovel






Cara kerja Power Shovel
Pekerjaan dimulai dengan mennempatkan shovel pada posisi dekat tebing yang akan digali, dengan menggerakkan dipper/bucket  ke depan kemudian ke atas sambil menggaruk tebing sedemikian rupa sehingga dengan garukan ini tanah dapat masuk ke dalam bucket. Jika bucket sudah penuh, bucket ditarik ke luar. Operator yang telah berpengalaman, akan dapat mengatur gerakan sedemikian rupa sehingga bucket sudah terisi penuh pada saat bucket mencapai bagian atas tebing.
 Setelah terisi penuh, shovel dapat diputar (swing)  ke kanan atau ke kiri menuju tempat yang harus diisi. Segera sesudah shovel  tidak lagi dapat mencapai tebing dengan sempurna, shovel digerakkan/berjalan menuju posisi baru hingga dapat bekerja seperti semula. Pada dasarnya gerakan-gerakan selama bekerja dengan shovel  ialah:
  1. Maju untuk menggerakkan dipper menusuk tebing,
  2. Mengangkat dipper/bucket untuk mengisi,
  3. Mundur untuk melepaskan dari tanah/tebing,
  4. Swing (memutar) untuk membuang (dump),
  5. Berpindah jika sudah jauh dan tebing galian, dan
  6. Menaikkan/menurunkan sudut boom jika diperlukan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1       Uraian Dinding Penahan Tanah
Dalam pelaksanaan dinding penahan tanah, biasanya karena adanya perbedaan elevasi maka tanah di belakang dinding diisi dengan tanah timbunan. Timbunan ini dapat diisi dengan menggunakan tanah pasir atau tanah lempung. Dinding penahan tanah adalah suatu bangunan yang dibangun untuk mencegah material agar tidak longsor menurut kemiringan alamnya dimana kestabilannya dipengaruhi oleh kondisi topografinya. Jika dilakukan pekerjaan tanah seperti penanggulan atau pemotongan tanah, terutama bila jalan dibangun berbatasan dengan sungai atau danau maka konstruksi penahan itu dibangun untuk melindungi kemiringan tanah dan melengkapi kemiringan dengan pondasi yang kokoh. Selain itu DPT juga digunakan untuk menahan timbunan tanah serta tekanan-tekanan akibat beban-beban lain seperti beban merata, beban garis, tekanan air dan beban gempa. Bangunan dinding biasa digunakan untuk menopang tanah, batubara , timbunan bahan tambang dan air.
Dinding penahan tanah sering kali digunakan hubungannya dengan jalan kereta api, jalan raya, jembatan, kanal,dan banyak pekerjaan bangunan lainnya.
Kegunaan dari dinding penahan  tanah dapat dilihat pada gambar  2.1 yaitu:
a.       Digunakan pada daerah potongan (cut), daerah urugan (fill), maupun kombinasinya. 
b.      Digunakan pada daerah yang perlu ditinggikan atau memerlukan elevasi yang lebih tinggi untuk kepentingan pembuatan jalan, begitu pula bila memerlukan daerah yang lebih rendah.
c.       Memperluas dataran apabila tanahnya merupakan lereng (landscaping).
d.      Sebagai dinding saluran (canals) dan pintu air (locks).
e.       Untuk menahan erosi.
f.       Untuk menahan air tampungan (flood walls).
g.      Sebagai pangkalan jembatan (bridge abutment).
Gambar 2.1 Kegunaan dinding penahan tanah

2.1.1     Penggolongan Jenis-Jenis Dinding Penahan Tanah
            Dinding penahan tanah dapat digolongkan menurut bahan-bahan yang dipakai untuk bentuk bangunannya.
1.      Dinding  Penahan dinding Batu Dan Balok
         Dinding penahan jenis ini digunakan untuk mencegah terjadinya keruntuhan tanah, dan digunakan apabila tanah asli di belakang tembok itu cukup baik dan tekanan tanah dianggap kecil. Hal ini termasuk ke dalam kategori di mana kemiringannya lebih curam dari 1: 1 dan dibedakan dari pemasangan batu dengan kemiringan muka yang lebih kecil.
2.   Dinding Penahan Beton Tipe Gravitasi (Tipe Semigravitasi)
Bahan dari dinding ini dapat dibuat dari blok batuan, bata, atau beton polos (plain concrete). Stabilitas dinding ini tergantung beratnya dan tidak ada gaya tarik di setiap bagian dari dinding. Karena bentuknya yang sederhana dan juga pelaksanaan yang mudah, jenis ini sering digunakan apabila dibutuhkan konstruksi penahan yang tidak terlalu tinggi atau bila tanah pondasinya baik. Dinding ini kurang ekonomis apabila digunakan untuk dinding yang tinggi. Dinding Semi Gravitasi adalah dinding yang sifatnya terletak antara sifat dinding gravitasi sebenarnya dan dinding kantilever. Dimana pada dinding ini terdapat perluasan kaki sehingga tebal penumpang dapat direduksi dan digunakan sejumlah kecil penguatan baja.
3.   Dinding Penahan Beton Dengan Sandaran (Lean against type)
            Dinding penahan dengan sandaran sebenarnya juga termasuk dalam kategori dinding penahan gravitasi tetapi cukup berbeda dalam fungsinya. Apabila dikatakan dengan cara lain, maka dinding penahan tipe gravitasi harus berdiri pada alas bawahnya meskipun tidak ada tanah timbunan di belakang tembok itu, oleh karena itu berat dinding haruslah besar, dan tergantung dari besarnya kapasitas daya dukung tanah pondasi. Akibatnya, bila diperlukan dinding penahan yang tinggi maka dinding penahan jenis ini tidak dipakai. Dengan perkataan lain, dinding penahan beton dengan sandaran berbeda dalam kondisi kestabilan dan direncanakan supaya keseimbangan tetap terjaga dengan keseimbangan berat sendiri badan dinding dan tekanan tanah pada permukaan bagian belakang.
4.   Dinding Penahan Beton Bertulang Dengan Balok Kantilever
Dinding penahan dengan balok kantilever tersusun dari suatu dinding memanjang dan suatu pelat lantai, dinding ini menggunakan aksi konsol untuk menahan massa yang berada di belakang dinding dari kemiringan alami yang terjadi Masing-masing berlaku sebagai balok kantilever dan kestabilan dari dinding didapatkan dengan berat badannya sendiri dan berat tanah di atas tumit pelat lantai. Dinding penahan jenis ini relatif ekonomis dan juga relatif mudah dilaksanakan.
5.   Dinding Penahan Beton Bertulang Dengan Penahan (Buttress)
Dalam kenyataannya, dinding penahan jenis ini pada umumnya hanya membutuhkan bahan yang sedikit. Jenis ini digunakan untuk tembok penahan yang cukup tinggi. Kelemahan dari dinding penahan jenis ini adalah pelaksanaannya yang lebih sulit dari pada jenis lainnya dan pemadatan dengan cara rolling pada tanah di bagian belakang adalah jauh lebih sulit.
6.   Dinding Penahan Beton Bertulang Dengan Dinding Penyokong
            Dinding ini sering disebut Dinding Pertebalan Belakang (Counterfort Retaining Wall) serupa dengan dinding kantilever, tetapi pada dinding tersebut digunakan untuk konsol yang panjang atau untuk tekanan-tekanan yang sangat tinggi di belakang dinding dan mempunyai pertebalan belakang, yang mengikat dinding dan dasar bersama-sama, yang dibangun pada interval-interval sepanjang dinding untuk mengurangi momen momen lentur dan geser.
7.   Dinding Penahan Khusus
            Jenis ini adalah dinding penahan khusus yang tidak termasuk dalam tembok penahan yang disebutkan dalam no1 sampai no 6. Jenis ini dibagi menjadi dinding penahan macam rak, dinding penahan tipe kotak, dinding penahan terbuat di pabrik, dinding penahan yang menggunakan jangkar, dinding penahan dengan cara penguatan tanah dan dinding penahan berbentuk Y terbalik.





 









           




Gambar 2.2 Macam-macam tembok penahan / dinding penahan tanah (Suyono & Nakazawa 1980)

2.1.2    Perencanaan Dinding Penahan Tanah
Hal-hal dasar dalam merencanakan dinding penahan tanah :
1.      Beban yang dipakai untuk perencanaan
a)      Berat sendiri dinding penahan yang terdiri :
·         Berat dinding penahan itu sendiri
·         Berat tanah pada bagian atas tumit pelat lantai pada tipe balok kantilever
b)      Tekanan tanah
c)      Beban pembebanan
Apabila permukaan tanah di bagian belakang dinding akan digunakan untuk jalan raya, maka pembebanan harus diperhitungkan. Beban dianggap 1 t/m2 dalam pembebanan mobil.
d)     Beban lainnya : Daya angkut / apung dan tekanan air
2.      Kestabilan Dinding Penahan Tanah
      Hal-hal yang perlu diperhatikan :
·         Kestabilan terhadap guling
·         Geser
·         Eksentrisitas
·         Daya dukung tanah pondasi
·         Kestabilan seluruh sistem
            Pemilihan jenis-jenis dari dinding penahan tanah ditentukan berdasarkan berbagai macam keperluan termasuk dari segi konstruksi, estetika, dan ekonomis. Perencanaan dinding penahan tanah adalah sebuah proses yang kompleks termasuk di dalamnya faktor keamanan dan ekonomis.

2.1.3    Sifat-sifat Tanah
Sifat-sifat fisis tanah dan struktur tanah yang berhubungan dengan desain dinding penahan tanah adalah: sudut geser dalam tanah (f), kohesi (c), berat volume (g), sudut geser tanah pada dinding (d) adhesi antara tanah timbunan dengan dinding, sudut geser tanah pada dasar pondasi dan adhesi pada dasar pondasi dengan tanah pondasi.
           


2.1.4    Stabilitas Struktur Dinding Penahan Tanah
            Kestabilan DPT umumnya ditinjau dari 3 macam faktor keamanan (FK) yaitu:
a.       FK terhadap geser :FKgeser    1,5
b.      FK terhadap guling :FK guling   2.0
c.       Stabilitas Daya Dukung :qdpt < qijin daya dukung
            Gaya-gaya penahan dan penggerak yang bekerja pada DPT adalah:
1.      Momen Guling
Tekanan tanah lateral yang bekerja pada tanah timbunan dan beban permukaan yang bekerja dapat merobohkan dinding penahan pada kakinya. Momen guling distabilkan oleh berat dinding dan berat tanah di atas dasar dinding seperti yang terlihat pada gambar berikut ini:
                 
Gambar2.3  Stabilitas terhadap guling
                  Dalam mendesain dinding penahan harus diperoleh ukuran yang sebanding sehingga total momen stabilitasnya sekurang-kurangnya 50 % lebih besar dari momen gulingnya. Dengan perkataan lain, faktor keamanan terhadap guling adalah:
            FK = = 1.5 – 2.0 (minimum)
                  =                                                                                   (2.1)
dimana:
            W     = berat sendiri dinding + berat tanah diatas pondasi
            Pah , Pav  = komponen horisontal dan vertikal dari tekanan lateral Pa
Momen guling penahan adalah WsXs +WcXc+PvXv dengan mengabaikan Pp
Momen guling penggerak adalah Ph x y
3.      Gaya geser
.           Tahanan Pasif tanah di muka dinding biasanya diabaikan dalam analisa kestabilan. Semua komponen horisontal dari tekanan tanah dapat menyebabkan dinding bergeser sepanjang dasar dinding. Jika tahanan pasif diabaikan seperti yang telah disebutkan diatas, gaya geser pada dasar dinding ditahan oleh gaya horisontal yang terdiri dari gesekan, adhesi, atau kombinasi keduanya.
            Faktor keamanan untuk melawan pergeseran paling sedikit harus 1.5 dengan perhitungan  sebagai berikut:
            FK =   
                  =                                                                                                 (2.2)
dimana:  Gaya geser penahan adalah                                                                   
                  Fr   =Rtanf'+c'B+Pp                                                                         (2.3)
                  R   = berat sendiri dinding dan tanah diatas pondasi                        
                  '   biasanyadiambil=                                              (2.4)
                  c'    =                                                                                   (2.5)
                  Pp  = tekanan pasif
R adalah gaya normal yang bekerja pada bagian base. Pada gambar 2.4 yang dimaksud R = Ws (bagian toe + heel)+}Wc
Gaya geser penggerak adalah Pah













Gambar 2.4 Gaya -gaya yang terlihat dalam guling dan gelincir (bowles, 1993)
4.      Daya Dukung Tanah
Dinding penahan harus pula proporsional untuk mendapatkan faktor keamanan yang cukup melawan keruntuhan pondasi.

                  FK=                    (2.6)

Daya dukung ultimit dengan metode terzaghi adalah
qult = cNc+qNq+0,5.g.B.Ng                                                                             (2.7)
dimana:
c = kohesi
q=Besarnya beban yang bekerja pada dasar (base) DPT
g = berat isi tanah
B = lebar dasar DPT
Nc,Nq,Ng = faktor daya dukung sebagai fungsi dari f (sudut geser dalam)
Yang digunakan dalam tinjauan ini adalah berupa daya dukung ijin (qall) yang didefinisikan sebagai
               Qijin = qu / FK                                                                                    (2.8)
Ambil FK untuk daya dukung ini berkisar antara 3-4
Beban yang bekerja dan terjadi pada dasar DPT adalah
qdpt max,min = R/B  (6R.e) / B2





Gambar 2.5 Beban yang bekerja pada dasar DPT (Xanthakos,1995)

Persamaan lain yang dapat digunakan::
                                                     (2.9)
                                    (2.10)
               e=danx'=                                                                   (2.11)
               R=Beratdinding+Pav                                                                           (2.12)

2.2       Tekanan Tanah Lateral
Tekanan tanah timbul selama pergeseran tanah (soil displacement) atau selama peregangan tetapi sebelum tanah tersebut mengalami keruntuhan. Agar dapat merencanakan konstruksi penahan tanah dengan benar, maka kita perlu mengetahui gaya horisontal yang bekerja antara konstruksi penahan dan massa tanah yang ditahan. Gaya horisontal disebabkan oleh tekanan tanah arah horisontal (lateral). Analisa dan penentuan tekanan tanah lateral sangat penting dalam mendesain dinding penahan tanah. Besar dan distribusi tekanan lateral yang bekerja pada struktur dinding penahan tanah atau pondasi tergantung pada regangan relatif tanah dibelakang struktur.
            Timbunan tanah yang berada di belakang dinding penahan tanah akan mendorong dinding ke depan menjauhi timbunan. Jika struktur ini merupakan abutmen pada jembatan, maka dampaknya sangat berbahaya sekali untuk struktur diatasnya. Jika dorongan dari tanah lateral tersebut lebih besar dari tahanannya maka abutmen tersebut akan patah, struktur yang ada diatasnya (contohnya adalah girder pada jembatan ) bisa runtuh. Hal ini merupakan beban dalam arah lateral  yang harus diperhatikan pada saat mendesain dinding penahan tanah itu. Pada waktu analisis perhitungan, umumnya besarnya tekanan tanah dan gaya-gaya diambil untuk suatu unit panjang potongan (pias) selebar satu meter. Distribusi tegangan tanah lateral akibat berat sendiri tanah biasanya berbentuk segitiga (hidrostatis), dengan nilai maksimum pada dasar dinding penahan tanah.
            Terdapat hal-hal mendasar yang berkaitan dengan tekanan tanah lateral pada dinding penahan tanah, dimana pada umumnya dinding berada di dalam keadaan di bawah ini:
  1. Kondisi tekanan tanah pada keadan diam
  2. Kondisi tekanan tanah aktif
  3. kondisi tekanan tanah pasif

2.2.1    Tanah Dalam Keadaan Diam (Earth Pressure At Rest)
            Tekanan tanah pada kondisi diam adalah tekanan lateral oleh tanah yang dihindarkan dari pergerakan lateralnya oleh suatu dinding struktur yang tidak memberikan perubahan bentuk / posisi (unyielding wall). Kondisi ini terjadi jika regangan lateral pada tanah sama dengan nol, yang dapat dijumpai antara lain pada tekanan-tekanan tanah yang bekerja pada dinding-dinding suatu lantai dasar
( basement ), jembatan beton portal.
            Pada kondisi ini besarnya tekanan tanah pada dinding penahan berada diantara tekanan tanah aktif dan tekanan tanah pasif. Untuk melakukan analisis tekanan tanah pada keadaan diam, dilakukan tinjauan kondisi tekanan pada suatu elemen tanah di kedalaman z.         



 




Gambar 2.6 Tinjauan kondisi tekanan pada kedalaman z
           
             Asumsi tanah yang digunakan teori elastisitas:
·   Semi infinite
·   Homogen
·   Elastik isotropik
            Ditinjau elemen tanah pada kedalaman z dari permukaan tanah. Tegangan vertikal yang bekerja pada elemen tanah tersebut adalah:
                                                                                                          (2.13)  









Gambar. 2.7 Distribusi Tekanan Tanah Dalam Keadaan Diam
               

            Jika ada dinding dekat dengan tanah yang ditinjau, maka pada dinding akan memperoleh gaya horizontal seperti persamaan berikut ini. Tekanan tanah lateral  dalam keadaan diam dinyatakan dalam Po dan dengan mensubtitusikan didapat :
                                                                                                      (2.14)
            Jika ditentukan bahwa diagram distribusi tekanan berbentuk triangular (hidrostatis) dan tekanan total dapat dilihat pada (2.5a). Tekanan sama dengan nol pada z = 0, tekanan sama dengan Ko g H pada dasar dinding ( z = H ). Tekanan total per unit panjang dengan tinggi dinding sama dengan H adalah:
.H2                                                              (2.15)

Keterangan simbol:
Ko  = koefisien tekanan tanah lateral dalam keadaan diam
Po    = tekanan pada dasar dinding
Po    = gaya resultant per unit panjang dinding
g    =berat volume tanah
H   = tinggi dinding
Nilai Ko tergantung dari nilai sudut geser dalam ()dan Indeks Plastisitas (PI).
Berikut ini merupakan cara mencari nilai Ko menurut jenis tanahnya:
·         Untuk jenis tanah granular / pasir, nilai Ko diperoleh dari rumus empiris:
                                                                                               (2.16)
Ko = 0.4 untuk tanah pasir padat (dense sand)
Ko = 0.5 untuk tanah pasir lepas (loose sand)

·         Untuk jenis tanah clay / lempung, nilai Ko diperoleh dari rumus empiris:
                                                                                         (2.17)
      PI < 40             Ko = 0.4 + 0.007( PI)
40 < PI < 80     Ko = 0.64 + 0.001 (PI)
·         Untuk ˝tanah normally consolidated clay˝, nilai Ko dapat diperoleh dari rumus empiris:
      Ko=0.19+0.233log(PI)                                                                         (2.18)
     
            Jika ditentukan bahwa diagram tekanan pada dinding berupa segitiga dan tekanan totalnya sebesar:
                                                                         (2.19)
            Resultan Po bekerja melalui titik pusat segitiga diagram tekanan, yaitu pada dari dasar dinding.

2.2.2 Tekanan Tanah Aktif 
Kondisi tekanan tanah aktif yaitu kondisi dimana dinding bergerak menjauhi bagian tanah timbunan / timbul apabila dinding penahan tanah bagian atas bergerak relatif ke depan relatif terhadap dasarnya, hal ini disebabkan oleh adanya momen yang terjadi atau bekerja pada dinding tersebut.
Struktur dinding penahan tanah biasanya terdiri dari batu kali dan beton, sehingga permukaan tidak halus. Hal ini sangat berlawanan dengan teori rankine yang memperhitungkan gaya geser, konsekuensinya adalah resultan dari tekanan akan sejajar dengan permukaan tanah urugan / timbunan (backfill). Jika  gaya geser dimasukkan dalam analisa perhitungan maka resultan tekanan akan bekerja miring pada dinding dan sudut yang terjadi mendekati sudut gaya geser antara dinding dengan tanah. Jika tanah di belakang dinding adalah tanpa kohesi maka dapat ditinjau beberapa kondisi sebagai berikut:
  1. Tanah timbunan kering tanpa beban permukaan
  2. Tanah timbunan terendam air
  3. Tanah timbunan dengan beban merata permukaan

2.2.2.1 Tanah Timbunan Kering Tanpa Beban Permukaan
Ditinjau elemen tanah dengan kedalaman z di bawah permukaan.
Gambar 2-8. Distribusi Tekanan Aktif
                               (2.20)   


Untuk c = 0
                                                                                  (2.21)   


jadi
        
                                                                                              (2.22)
                                                                                            (2.23)

sh = tekanan tanah lateral (tegangan utama minimum) = Pa
sv = tekanan tanah vertikal (tegangan utama maksimum) = g.z
sehingga
                                                                                                                        (2.24)
            Gambar  2-8 memperlihatkan distribusi tekanan aktif Pa pada dinding. Pada kedalaman z =H tekanan tanah adalah:
         Pa =Ka.g . H                                                                                            (2.25)
            Total tekanan aktif Pa atau resultan tekanan persatuan panjang pada dinding didapat dengan mengintregasikan persamaan (2.28) atau sama dengan luas diagram distribusi yang berbentuk segitiga.
            Pa =  .Ka.g.H2                                                                                        (2.26) 
                Resultan gaya bekerja pada  diatas dasar dinding. Untuk tanah kering g adalah berat jenis untuk tanah kering ( gdry ), sedangkan untuk tanah lembab yang digunkan berat jenis tanah lembab (gmoist ). Tetapi jika tanah dalam keadaan jenuh, harga g' = (gsat - gw ) dipergunakan. Hal ini dijelaskan pada bagian berikutnya.

2.2.2.2.Tanah Timbunan Terendam Air
            Untuk tanah timbunan yang terendam air, yang menyebabkan terjadinya tekanan lateral dibedakan menjadi dua komponen yaitu:
1. Tekanan lateral akibat tekanan tanah jenuh air
2. Tekanan lateral akibat tekanan air
Tinjau elemen tanah pada kedalaman z dibawah permukaan:
         Pa = Ka.g'.z + gw.z                                                                                    (2.27)

Tekanan pada dasar dinding ( z = H )                                                                        adalah:
         Pa = Ka.g'.H + gw.H                                                                                 (2.28)                
            Jika air berada pada kedua sisi dinding, tekanan akibat air tidak diperhitungkan karena saling menghilangkan dan tekanan lateral yang terjadi adalah:
            Pa = Ka.g'.H                                                                                          (2.29)        
            Untuk tanah timbunan yang tidak seluruhnya jenuh air, sebagai contoh sampai kedalaman H1 adalah tanah lembab, kemudian di bagian bawah tanah tersebut merupakan tanah jenuh air maka intensitas tekanan lateral pada dasar dinding adalah:

Gambar. 2.9 Distribusi Tekanan Tanah Jenuh Sebagian
Pa = Ka.g.H1 + Ka. g'.H2+gw. H2                                                                         (2.30)
Pada pembahasan terdahulu harga dianggap sama untuk semua lapisan baik untuk tanah lembab atau untuk tanah jenuh air. Jika harga  tidak sama, misal   dan 2 serta koefisien tanah lateral adalah Ka1 dan Ka2 maka intensitas tekanan lateral pada dasar dinding adalah:
            Pa=Ka1.g.H1+Ka2. g'.H2+gw.H2                                                         (2.31)
Harga  berpengaruh terhadap besar nilai koefisien tekanan tanah ( Ka), jika harga berkurang maka nilai koefisien tekanan tanah bertambah dan sebaliknya.

2.2.2.3.Tanah Timbunan Dengan Beban Merata Permukaan
            Pada tanah timbunan dengan permukaan horisontal yang diatasnya bekerja beban merata permukaan sebesar q akan menyebabkan meningkatnya tekanan lateral sebesar Ka q sehingga tekanan lateral pada kedalaman z adalah :
         Pa=Ka.g.z+Ka.q                                                                                      (2.32)
Pada dasar dinding ( z = H ) intensitas tekanan sebesar :
         Pa=Ka.g.H +Ka.q                                                                                  (2.33)
Peningkatan tekanan sebesar Ka q tidak terpengaruh oleh kedalaman atau besarny Ka q adalah konstan karena pada setiap kedalaman
Gambar 2-10. Distribusi Tekanan Tanah akibat beban merata

2.2.3 Tekanan Tanah Pasif
         Kondisi tekanan tanah pasif yaitu kondisi dimana dinding bergerak relatif menuju tanah timbunan / kondisi yang timbul akibat tanah itu didesak oleh dinding penahan tanah, sebagai contoh biasanya tekanan pasif  timbul pada kaki dinding penahan (bagian depan muka dinding).
            Jika pergeseran dinding ditahan oleh tanah yang berada di depan kaki dinding setinggi z. Apabila dinding bergeser, maka tanah penahan akan tertekan perlahan-lahan. Tegangan vertikal v tetap konstan dan h bertambah. Tekanan tanah pasif diturunkan pada kondisi keseimbangan pasif. Disini tekanan lateral berfungsi sebagai tekanan utama maksimum dan tekanan vertikal sebagai tekanan utama minimum.
2.2.3.1. Tanah Timbunan Tanpa Kohesi                                                         
         h=1=Pp                                                                                              (2.34)
         v =  3 = g.z

Hubungan kedua tegangan tersebut adalah sebagai berikut:
         1=3tan2                                                                                            (2.35)
         Pp = g.z tan2 = Kp.g.z                                                                                
Dimana :
         Pp = intensitas tekanan tanah pasif
         Kp = koefisien tekanan  tanah pasif dari Rankine
         Kp=tan2a =N==               (2.36)
            Distribusi tekanan tanah pasif adalah berbentuk segitiga dengan harga maksimum sebesar Kp g H di dasar dinding pada kedalaman H
            Total merupakan hasil integrasi Kp g z  dengan kedalaman H didapat :
         Pp=                                                                     (2.37)
            Apabila diatas tanah timbunan bekerja beban merata permukaan sebesar q, tekanan tanah pasif bertambah sebesar Kp q. Besar tekanan tanah pasif pada kedalaman z menjadi :
         Pp=Kp(g.z+q)                                                                                          (2.38)

2.2.3.2 Tanah Timbunan Bersifat Kohesif
            Untuk tanah timbunan yang ada di belakang dinding yang bersifat kohesif, hubungan tegangan utama pada saat kondisi runtuh adalah
                            (2.39)
            Untuk kasus tekanan tanah pasif, dengan mensubtitusikan harga   dan  didapat :
         Pp=g.ztan2+2ctan                                                                              (2.40)
          = g.z.N+2ctan                                                                            (2.41)
Untuk z = 0,   Pp = 2 c tan a
              z=H,Pp=g.Htan2+2ctan                                                          (2.42)

2.2.4 Teori Tekanan Tanah Lateral
        Untuk menentukan tekanan tanah secara analitis, ada dua yaitu:
  1. Teori Rankine (1857)
  2. Teori Coulumb(1776)

Teori Rankine
          Yang dimaksud dengan keseimbangan plastis ( plastic equilibrium) di dalam tanah adalah suatu keadaan yang menyebabkan tiap-tiap titik di dalam massa tanah menuju proses ke suatu keadaan runtuh. Rankine menyelidiki kedaan tegangan di dalam tanah yang berada pada kondisi keseimbangan plastis.
Asumsi yang menjadi dasar teori rankine yaitu:
1.      Massa tanah adalah semi infinite, homogen (semua sama), kering, berbutir kasar, dan tanpa kohesi.
2.      Tanah permukaan datar (rata), horisontal atau membentuk sudut dengan bidang horisontal.
3.      Antara dinding dengan tanah tidak ada geseran (friction) / gaya geser(shear stress) karena dindingnya vertikal dan  halus / licin (smooth wall).
4.      Dinding bergerak terhadap dasar dan deformasi yang menyebabkan kondisi keseimbangan plastis dipenuhi.
5.      Tekanan tanah lateral dan tinggi / kedalaman dinding berhubungan linier, resultan dari tekanan bekerja 1/3 jarak vertikal dari bagian dasar dinding ke permukaan tanah (  arah resultannya sejajar dengan permukaan tanah).
6.      Sliding (longsoran) terjadi dengan terbentuknya sliding wedge( kelongsoran baji tanah).
Pada kenyataannya hasil analisa berdasarkan teori rankine menghasilkan desain dinding sedikit lebih besar sehingga memberi sedikit tambahan pada faktor keamanan.
            Cara ini hanya berlaku untuk tanah yang uniform coheionless soils saja
(c = 0 dan f = 0), tidak ada kohesi dinding dan gesekan dinding). Hal berikut ini dapat ditunjukkan pada gambar di bawah ini.
           






Gambar 2.11. Kondisi Rankine Aktif ( Bowles, 1993)

            Persamaan tekanan tanah aktif menurut Rankine adalah sebagai berikut:
         Pa = g.H2. Ka                                                                                       (2.43)
dimana :
                                                                  (2.44)
Tekanan tanah pasif dengan cara Rankine dapat dicari dengan cara berikut:
         Pp=g.H2.Kp (2.48)
dimana:                                                   (2.45)

Gambar 2.12. Kondisi Rankine Pasif

Pengaruh kohesi memberikan hasil :
                                                                                       (2.46)
                                                                              (2.47)
Kedua persamaan menunjukkan bahwa dengan adanya kohesi berarti mengurangi tekanan tanah aktif

Gambar 2.13 Kondisi Rankine Aktif dengan keretakan pada tanah kohesif

Tekanan Tanah Coulumb                                                                                 
            Pada teori Rankine terdapat anggapan/asumsi bahwa antara tanah dan dinding tidak ada gaya geser. Pada kenyataannya gaya geser yang terjadi antara tanah dan dinding struktur penahan memberi pengaruh tekanan geser vertikal dari tanah, jadi pada keadaan seperti ini terdapat tekanan lateral pada dinding yang pada kenyataanya berbeda dengan asumsi Rankine. Untuk mengatasi kondisi yang memperhitungkan adanya friction dan gaya geser antara tanah dan dinding, dapat dimanfaatkan teori coulumb yang memperhitungkan adanya pengaruh pada tekanan-tekanan tangensial sepanjang permukaan kontak akibat geseran dinding (wall friction).
            Anggapan-anggapan dasar di dalam teori tekanan tanah Coulumb adalah sebagai berikut:
  1. Tanah adalah isotropik dan homogen yang mempunyai gesekan dalam dan kohesi, dimana s= c + sn tan  
  2. Bidang runtuh adalah sebuah bidang rata. Permukaan urugan balik ( backfill surface) merupakan bidang datar.
  3. Dengan nilai yang sama gaya-gaya geekan didistribusikan sepanjang permukaan runtuh yang rata, dan koefisien gesekan f = tan f
  4. Keping runtuh ( failure wedge)  adalah sebuah bidang tegar.
  5. Adanya gesekan dinding, yaitu keping runtuhan bergerak dalam kaitan terhadap bagian punggung dari dinding, maka berkembanglah suatu gaya gesek antara tanah dan dinding. Sudut gesekan ini biasanya dinamakan d.
  6. Keruntuhan adalah suatu persoalan peregangan dinding, tinjaualah satu satuan panjang dari sebuah benda yang panjangnya tak berhingga.
            Kekurangan utama dari teori Coulumb adalah tanah ideal dan permukaan runtuh adalah bidang rata.
            Persamaan-persamaan yang didasarkan pada teori Coulumb untuk tanah aktif tak berkohesi didapat dari gambar berikut ini.

Gambar 2.14. Kondisi Coulumb Aktif  (Bowles, 1993)

         Pa=g.H2.Ka                                                                                         (2.48)
dimana:                 (2.49)
Ka yaitu koefisien yang mengandung unsur  tapi tidak tergantung pada gdan H.
            Untuk sebuah dinding vertikal licin yang mempunyai urugan balik horisontal, dimana  dan  persamaan ( 2.48 ) dapat disederhanakan sebagai berikut:
                                                                                 (2.50)
               =                                                                      (2.51)
yang juga merupakan persamaan Rankine untuk tekanan tanah aktif yang akan ditinjau dalam bagian berikutnya.
Persamaan yang didasarkan pada teori Coulumb untuk tekanan tanah pasif didapat dari gambar 3-4.
Gambar 2.15 Kondisi Coulumb Pasif (Bowles, 1993)
         Pp=g.H2.Kp                                                                                     (2.52)
dimana

 (2.53)

2.3. Distribusi Tegangan Tanah Lateral Aktif Akibat Beban Permukaan          
          Beban permukaan sebagai beban tambahan akan menimbulkan peningkatan tegangan yang terjadi. Beban permukaan tersebut dapat berupa beban titik atau beban merata tergantung jenis atau bentuk struktur yang membebani.
            Distribusi tegangan akibat beban permukaan dengan mengabaikan tegangan akibay tanah diselidiki oleh Boussinesq. Teori Boussinesq adalah metoda yang lebih mengarah pada matematika, untuk memperkirakan tekanan tanah pada berbagai titik di dalam suatu lapisan tanah.  Teori ini didasarkan pada metoda elastisitas.
            Asumsi Boussinesq adalah:
·         Berat sendiri tanah diabaikan
·         Massa tanah elastis, homogen, isotropik dan semiinfinite
·         Perubahan volume diabaikan
·         Massa tanah belum berdeformasi sebelum dibebani
·         Terjadi kesinambungan tegangan
·         Distribusi tegangan identik dengan distribusi tegangan dalam arah vertikal
Konstruksi tiang, beban roda kendaraan adalah contoh konstruksi yang menimbulkan beban terpusat.
                       
2.3.1. Beban Terpusat
            Beban titik yang terletak pada tanah timbunan akan menimbulkan tekanan dalam arah lateral. Sehingga tekanan tanah yang bekerja pada dinding penahan tanah timbunan tersebut akan meningkat. Spangler dan Mickle (1956) telah menurunkan persamaan berdasarkan metoda elastisitas. Besar tekanan tanah lateral akibat beban terpusatadalh sebagai berikut:
         m>0.4,                                                              (2.54)
                                                                                                                             
         m,                                                         (2.55)
Gambar 2.16. Distribusi Tegangan Lateral akibat Beban Terpusat (Boussinesq)
Konstruksi tiang, beban roda kendaraan adalah contoh konstruksi yang menimbulkan beban terpusat.
2.3.2.   Beban Merata                  
          Pada perencanaan dinding penahan tanah untuk memeriksa dimensi relatif dari struktur dinding harus ditentukan jenis pembebanan apapkah dapat ditinjau sebagai beban garis (line load) atau beban jalur (strip load). Sebuah blok beton atau pagar dapat dipandang sebagai beban garis, pipa selubung yang terletak di atas tanah adalah contoh lain beban garis. Beban-beban jalur dapat dipandang sebagai deret beban garis yang paralel.
2.3.2.1. Beban Garis
            Dengan menggunakan perbandingan-perbandingan m, n dari persamaan Boussinesq maka tegangan yang terjadi pada dinding untuk m = 0.5 adalah:

      m > 0.4,                                 (2.56)
      m                                 (2.57)


Gambar 2.17. Distribusi Tegangan Lateral Akibat Beban Garis

2.3.2.2. Beban Jalur
            Beban jalur adalah intensitas pembebanan yang lebarnya tertentu, seperti jalan raya, jalan kereta api, atau tanggul tanah yang sejajar dengan struktur penahan. Terzaghi (1943) menyajikan persamaan untuk tegangan yang diakibatkan beban jalur sebagai:
                                                                                (2.58)